Movie Category 1

Subscribe Us

Template Information

Test Footer 2

Movie Category 2

Movie Category 3

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Movies of The Week

Mengenai Saya

Foto saya
Pendiam dan tidak mau ambil pusing

Join This Site On Google Friend

Blog Archive

Movie Category 5

Movie Category 4

[5][true][slider-top-big][Slider Top]
You are here: Home / , Pasar pro Jokowi, anjloknya saham VIVA dan MNC bukan hukuman

Pasar pro Jokowi, anjloknya saham VIVA dan MNC bukan hukuman

| No comment

Terjelajahi~ Di tengah melesatnya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di atas level 5000, dua saham telekomunikasi justru anjlok. Saham milik grup Bakrie yakni PT. Visi Media Asia Tbk (VIVA) dan saham milik taipan media Hary Tanoesoedibjo yakni PT. Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengalami penurunan. Saham VIVA turun paling dalam 6,72 persen menjadi Rp 250 sedangkan saham MNCN turun 6,23 persen menjadi Rp 2.560 pada penutupan perdagangan.
Sejumlah analis menilai, anjloknya saham VIVA dan MNCN terimbas hasil pilpres di mana televisi milik grup tersebut yakni tvOne, RCTI, MNC TV, Global TV, menayangkan hasil hitung cepat atau quick count 4 lembaga survei yang berbeda dari kebanyakan hasil quick count yang dilansir 7 lembaga survei. Hasil hitung cepat yang ditayangkan di media dua grup tersebut memenangkan pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta Rajasa.
Kondisi ini disangkutpautkan dengan kedekatan pemilik dua grup tersebut yang tak lain tim sukses Prabowo-Hatta.
Analis universal broker, Satrio Utomo mengakui penurunan kinerja saham kedua televisi tersebut efek dari pemberitaan hasil quick count yang memenangkan pasangan Capres-Cawapres nomor urut 1. Namun, efek tersebut diyakini tidak akan berlangsung lama.
"Kita lihat saja sentimen-sentimen seperti ini tidak akan bergerak lama, bisa satu atau dua hari ini saja. Dan kita lihat saja bagaimana pergerakan saham dua perusahaan ini, jika turun terus pasti akan melakukan rebound," ujar Satrio kepada merdeka.com, Jumat (11/7).
Satrio menegaskan, turunnya saham VIVA dan MNCN bukan diartikan sebagai hukuman dari pasar karena investor lebih condong ke Jokowi-JK. "Ini saya katakan hanya sentimen pilpres saja. Naik turunnya saham itu dari pendapatan hasil pemberitaan," katanya.
Dia tidak menampik bahwa selama ini pasar cenderung lebih merespon positif pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Indikatornya, kata dia, terlihat saat Jokowi menyatakan kesiapannya maju sebagai capres dari PDI Perjuangan. Saat itu pasar langsung merespon positif, IHSG menguat tajam.
"Tidak bisa dikatakan pasar dukung tapi memang kecenderungan IHSG naik ketika Jokowi memiliki peluang menang," ucapnya.

Sumber || terjelajahi.blogspot.com